DAFTAR ISI
Kata Pengantar.................................................................................................................... ii
Daftar Isi............................................................................................................................. iii
BAB I
Pendahuluan........................................................................................................................ 1
A.
Latar
Belakang...................................................................................................................
1
B.
Tujuan
Penulisan................................................................................................................ 1
C.
Metode
Penulisan............................................................................................................... 1
D.
Manfaat
Penulisan.............................................................................................................. 1
BAB II
A.
Keseimbangan
Benda Tegar............................................................................................... 2
a.
Keseimbangan
Partikel..................................................................................... 2
b.
Keseimbangan
Benda........................................................................................ 3
B.
Titik
Berat........................................................................................................................... 3
C.
Momen
Kopel..................................................................................................................... 3
D.
Syarat-Syarat
Statis Keseimbangan Benda Tegar.............................................................. 4
E.
Jenis-Jenis
Kesetimbangan................................................................................................ 5
c.
Kesetimbangan
Dinamis................................................................................... 5
d.
Kesetimbangan
statis......................................................................................... 5
F.
Gerak Pada
Kesetimbangan................................................................................................ 7
BAB III
Kesimpulan.......................................................................................................................... 8
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................... 9
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Sejarah arsitektur telah melahirkan
para pemikir dan perancang bangunan yang karyanya sangat mengagumkan. Gabungan
karya seni dan kekuatan yang kokoh menjadikan hasil karya itu bertahan lama
mengukir sejarah. Kekuatan yang menopang keindahan itu terletak pada
keseimbangan yang di rencanakan dengan baik. Pada pembahasan kali ini akan
mempelajari materi tentang keseimbangan benda tegar.
Dalam benda tegar, ukuran benda tidak diabaikan. Sehingga gaya-gaya yang bekerja pada benda mungkin menyebabkan gerak translasi dan rotasi terhadap suatu poros. Pada benda tegar di kenal titik berat.
Salah satu contoh aplikasi titik berat adalah seorang peloncat indah yang sedang terjun ke kolam renang. Dia melakukan gerak berputar saat terjun.Peloncat indah itu menjalani gerak parabola yang bisa dilihat dari lintasan titik beratnya
Dalam benda tegar, ukuran benda tidak diabaikan. Sehingga gaya-gaya yang bekerja pada benda mungkin menyebabkan gerak translasi dan rotasi terhadap suatu poros. Pada benda tegar di kenal titik berat.
Salah satu contoh aplikasi titik berat adalah seorang peloncat indah yang sedang terjun ke kolam renang. Dia melakukan gerak berputar saat terjun.Peloncat indah itu menjalani gerak parabola yang bisa dilihat dari lintasan titik beratnya
Jadi, lintasan gerak translasi dari benda tegar dapat ditinjau sebagai lintasan
dari letak titik berat benda tersebut. Dari peristiwa ini tampak bahwa peranan
titik berat begitu penting dalam menggambarkan gerak benda tegar.
Cara untuk mengetahui letak titik berat suatu benda tegar akan menjadi mudah
untuk benda-benda yang memiliki simetri tertentu, misalnya segitiga, kubus,
balok, bujur sangkar, bola dan lain-lain. Yaitu d sama dengan letak sumbu
simetrinya. Hal ini jelas terlihat pada contoh diatas bahwa letak titik berat
sama dengan sumbu rotasi yang tidak lain adalah sumbu simetrinya.
B. Tujuan Penulisan
1)
Mengetahui
apa itu kesetimbangan ?
2)
Mengetahui
apa itu benda tegar ?
3)
Mengetahui
jenis-jenis kesetimbangan ?
C.
Metode Penulisan
Dalam metode penulisan kami menggunakan metode studi pustaka dan browsing internet dalam penulisan makalah ini.
D. Manfaat Penulisan
Manfaat penulisan makalah ini adalah agar
pembaca dapat mengetahui bagaimana kesetimbangan bisa membantu pekerjaan
manusia dalam kehidupan sehari-hari.
BAB
II
KESETIMBANGAN
Kesetimbangan pada benda terjadi apabila gaya dan torsi pada benda
nol, maka benda tidak akan mengalami perubahan gerak maupun rotasi.
Artinya tidak ada gaya total yang bekerja pada
benda itu atau total gaya bernilai nol.
A. KESETIMBANGAN BENDA TEGAR
Kesetimbangan biasa terjadi pada :
·
Benda yang diam (statik), contoh : semua bangunan gedung, jembatan, pelabuhan,
dan lain-lain.
·
Benda yang bergerak lurus beraturan (dinamik), contoh : gerak meteor di
ruang hampa, gerak kereta api di luar kota, elektron mengelilingi inti atom,
dan lain-lain.
1.
(gaya)
2.
(torsi)
Jadi syarat kesetimbangan adalah total gaya sama dengan nol dan total torsi
sama dengan nol. Jika benda mula-mula diam, kemudian kita beri gaya dan torsi
yang setimbang, maka benda akan tetap diam atau terjadi kesetimbangan statis.
Benda tegar adalah benda yang tidak berubah bentuknya karena pengaruh gaya
dari luar.
a.
Keseimbangan Partikel
Penyebab gerak sumbu benda adalah gaya, dimana semakin besar
gaya, maka semakin besar pula percepatan yang dialami. Partikel adalah benda
yang ukurannya dapat diabaikan sehingga dapat digambarkan sebagai suatu titik
materi. Akibatnya, jika gaya bekerja pada partikel titik tangkap gaya berada
tepat pada partikel-partikel tersebut. Oleh karena itu, partikel hanya
mengalami gerak translasi dan tidak mengalami gerak rotasi.
Suatu partikel dikatakan dalam keadaan setimbang apabila
resultan gaya yang bekerja pada partikel sama dengan nol.
ΣF = 0
Apabila partikel pada bidang xy, maka syarat kesetimbangan
adalah resultan gaya pada komponen sumbu x dan sumbu y sama dengan nol
ΣFx = 0
ΣFy = 0
Berdasarkan Hukum I Newton, jika resultan gaya yang bekerja pada benda sama dengan
nol, maka percepatan benda menjadi nol. Artinya, bahwa
partikel dalam keadaan diam atau bergerak dengan kecepatan tetap. Apabila
partikel dalam keadaan diam disebut mengalami kesetimbangan statis, sedangkan
jika bergerak dengan kecepatan tetap disebut kesetimbangan dinamis.
b.
Keseimbangan Benda
Pada umumnya benda yang sedang bergerak
mengalami gerak translasi dan rotasi. Suatu benda dikatakan setimbang apabila benda memiliki
kesetimbangan translasi dan kesetimbangan rotasi. Dengan demikian, syarat
kesetimbangan benda adalah resultan gaya dan momen gaya terhadap suatu titik
sembarang sama dengan nol. Secara matematis dapat dituliskan:
ΣFx = 0, ΣFy =
0, dan Στ = 0
B. TITIK BERAT
Sebuah benda yang memenuhi syarat-syarat benda
setimbang akan mempunyai suatu titik yang menjadi titik kesetimbangan benda
itu. Titik ini biasa disebut titik berat. Pengertian titik berat yaitu titik
tangkap resultan semua gaya yang bekerja pada benda. Pada benda-benda berukuran
kecil, titik berat benda akan berimpit dengan pusat massa. Pusat massa
merupakan tempat massa benda yang seakan-akan terkumpul (terpusat). Titik berat
benda bergantung pada bentuk benda.

C. MOMEN KOPEL
Kopel adalah pasangan dua buah gaya yang sejajar, sama besar, dan arahnya berlawanan.
Pengaruh kopel terhadap sebuah benda adalah memungkinkan benda berotasi.
Besarnya kopel dinyatakan dengan momen kopel yang merupakan hasil kali antara
gaya dengan jarak antara kedua gaya tersebut.

Secara matematis dituliskan:
M = F.d
dengan:
M = momen kopel (Nm)
F = gaya (N)
d = jarak antara gaya (m)
Momen kopel merupakan besaran vektor. Momen
kopel bertanda positif jika arah putarannya searah dengan putaran jarum jam dan
negatif jika berlawanan dengan arah putaran jarum jam. Perhatikan gambar
berikut.

D.
SYARAT – SYARAT KESEIMBANGAN STATIS BENDA
TEGAR
Sekarang mari kita melangkah
lebih jauh. Kali ini kita mencoba melihat faktor-faktor apa saja yang membuat
benda tetap dalam keadaan diam.
a.
Syarat Pertama
Dalam hukum II Newton,
kita belajar bahwa jika terdapat gaya total yang bekerja pada sebuah benda
(benda dianggap sebagai partikel tunggal), maka benda akan bergerak lurus, di
mana arah gerakan benda = arah gaya total. Kita bisa menyimpulkan bahwa untuk
membuat sebuah benda diam, maka gaya total harus = 0. Gaya total = Jumlah semua
gaya yang bekerja pada benda.
Secara matematis bisa kita tulis seperti ini :
ΣƮ = 0
Persamaan Hukum II Newton :
Σ F= m a
Ketika sebuah benda
diam, benda tidak punya percepatan (a). Karena percepatan (b) = 0, maka
persamaan di atas berubah menjadi :
Σ F x= 0
Σ F y = 0
b.
Syarat Kedua
Dalam dinamika rotasi,
kita belajar bahwa jika terdapat torsi total yang bekerja pada sebuah benda
(benda dianggap sebagai benda tegar), maka benda akan melakukan gerak rotasi.
Dengan demikian, agar benda tidak berotasi (baca : tidak bergerak), maka torsi
total harus = 0. Torsi total = jumlah semua torsi yang bekerja pada benda
E. JENIS-JENIS KESETIMBANGAN
a) Kesetimbangan Dinamis
Kesetimbangan dinamis terbagi menjadi dua jenis yaitu :
a.
Kesetimbangan Homogen
b.
Kesetimbangan Heterogen
Biasa nya kesetimbangan jenis ini lebih banyak terjadi pada zat-zat seperti
:
Namun kesetimabangan ini pun juga terdapat dalam dunia fisika didalam
kehidupan sehari-hari contohnya : orang
yang sedang menaiki tangga escalator yang bergerak turun. Jika kecepatan
naiknya orang tersebut sama dengan kecepatan turunnya eskalator, maka dikatakan
mengalami ke setimbangan dinamis.
b) Kesetimbangan Statis
1. Kesetimbangan stabil
Kesetimbangan
stabil atau mantap adalah kesetimbangan yang terjadi pada benda yang apabila
dipengaruhi gaya akan kembali ke posisi semula, begitu gaya dihilangkan. Gambar
berikut menunjukkan sebuah bola yang tergantung bebas pada sebuah tali.

Jika bola digerakkan atau diberi gaya kemudian
dihilangkan, maka bola akan segera kembali ke posisi semula. Kesetimbangan
stabil ditandai dengan naiknya kedudukan titik berat benda jika dipengaruhi
gaya.
2. Kesetimbangan labil
Kesetimbangan
labil adalah kesetimbangan yang terjadi pada benda yang apabila dipengaruhi
gaya tidak kembali ke posisi semula. Gambar berikut menunjukkan sebuah bola
yang tergantung di atas tongkat.

Jika bola digerakkan atau diberi gaya kemudian
dihilangkan, maka bola tidak akan kembali ke posisi semula. Kesetimbangan labil
ditandai dengan turunnya kedudukan titik berat benda jika dipengaruhi gaya.
3. Kesetimbangan netral
Kesetimbangan
netral atau indeferen adalah kesetimbangan yang terjadi pada benda yang apabila
dipengaruhi gaya akan mengalami perubahan posisi, tetapi tidak mengalami
perubahan titik berat. Gambar berikut menunjukkan sebuah bola yang berada pada
lantai mendatar.

Jika
bola diberi gaya kemudian dihilangkan, maka bola akan bergerak dan diam pada
posisi yang berbeda. Kesetimbangan netral ditandai dengan tidak adanya
perubahan (naik atau turunnya) kedudukan titik berat benda
F. GERAK PADA KESETIMBANGAN
1). Gerak
translasi
dapat didefinisikan sebagai gerak
pergeseran suatu benda dengan bentuk dan lintasan yang sama di setiap titiknya.
Jadi sebuah benda dapat dikatakan melakukan gerak translasi (pergeseran)
apabila setiap titik pada benda itu menempuh lintasan yang bentuk dan
panjangnya sama. Contoh gerak translasi silahkan lihat gambar di bawah ini.

Syarat keseimbangan translasi
Σ Fx = 0
Σ Fy = 0
Σ τ = 0
Σ Fy = 0
Σ τ = 0
2). Gerak
Rotasi
gerak
rotasi dapat didefinisikan sebagai gerak suatu benda dengan bentuk dan lintasan
lingkaran di setiap titiknya. Jadi, benda disebut melakukan gerak rotasi jika
setiap titik pada benda itu (kecuali titik-titik pada sumbu putar) menempuh
lintasan berbentuk lingkaran. Sumbu putar adalah suatu garis lurus yang melalui
pusat lingkaran dan tegak lurus pada bidang lingkaran. Contoh gerak rotasi
silahkan lihat gambar di bawah ini.

Gambar
di atas merupakan contoh gerak rotasi, di mana setiap titik pada benda yang
berotasi bergerak melingkar mengelilingi sumbu putarnya.
Pada gerak rotasi,
sesuatu yang menyebabkan benda untuk berotasi atau berputar disebut momen gaya
atau torsi. Konsep momen gaya atau torsi dapat dilihat pada saat kita
melepaskan mur baut dengan menggunakan
Syarat kesetimbangan rotasi
Σ Fx =
0
Σ Fy = 0
Σ Fy = 0
Σ τ = 0
BAB
III
Kesimpulan
Pertama, jika titik berat benda berada
di bawah titik tumpuh, maka benda selalu berada dalam keseimbangan
stabil (benda masih bisa bergerak kembali ke posisi semula setelah puas
jalan-jalan). Contohnya adalah ketika sebuah benda digantung dengan tali. Untuk
kasus seperti ini, titik berat benda selalu berada di bawah titik tumpuh (titik
tumpuh berada di antara tali dan tiang penyanggah).
Kedua, jika titik berat benda berada di atas titik tumpuh, keseimbangan
bersifat relatif. Benda bisa berada dalam keseimbangan stabil, benda juga bisa
berada dalam keseimbangan labil/tidak stabil. Apabila setelah didorong, posisi
benda masih bisa kembali ke posisi semula (benda berada dalam keseimbangan stabil). Sebaliknya, apabila
setelah didorong, posisi benda tidak bisa kembali ke posisi semula. Benda akan
terus berguling ria ke kanan (benda
berada dalam keseimbangan tidak stabil/labil)
Ketiga, keseimbangan benda sangat bergantung pada bentuk/ukuran benda. Benda yang
kurus dan langsing berada dalam keseimbangan tidak stabil jika posisi berdiri
benda tersebut. Alas yang menopang benda tidak lebar. Ketika disentuh sedikit
saja, benda langsung tumbang. Perhatikan posisi titik berat dan titik tumpuh.
Sebaliknya, benda yang gemuk lebih stabil. Alas yang menopang benda lumayan
lebar.
Keempat, keseimbangan benda tergantung
pada jarak titik berat dari titik tumpuh. Jika posisi berdiri benda berada
dalam keseimbangan tidak stabil. Angin niup dikit aja, benda langsung berguling
ria. bandingkan dengan contoh benda kurus sebelumnya.
Sebaliknya,
jika posisi benda berada dalam keseimbangan stabil. Sekarang perhatikan jarak
antara titik berat dan titik tumpuh. Ketika benda berdiri, jarak titik berat
dan titik tumpuh lumayan besar. Ketika benda tidur, jarak antara titik berat
dan titik tumpuh sangat kecil.
Kita bisa
menyimpulkan bahwa keseimbangan benda sangat bergantung pada jarak titik berat dari titik tumpuh.
Semakin jauh si titik berat dari si titik tumpuh, keseimbangan benda semakin
tidak stabil. Sebaliknya, semakin dekat si titik berat dari si titik tumpuh,
keseimbangan benda semakin stabil.
DAFTAR
PUSTAKA
0 komentar